RAJA-RAJA ASTINA
Kurawa dan Pandawa adalah keluarga dekat, satu bapak
lain ibu yaitu dari bapak yang bernama Wiyasa. Wiyasa mengawini Dewi Ambiki
(janda Prabu Citragada) tanpa melakukan hubungan suami istri. Melihat wajah Wiyasa
yang buruk seketika Dewi Ambiki menutup mata sehingga kelak mempunyai anak
dengan nama Drestarastra yang buta. Sedangkan Wiyasa yang mengawini Dewi Ambika
(janda Prabu Citrawirya) juga tanpa melakukan hubungan suami istri, ketika
melihat wajah Wiyasa wajah Dewi Ambika pucat sehingga kelak mempunyai anak
dengan nama Pandu Dewanata berwajah pucat.
Yang menjadi Raja setelah Wiyasa adalah Pandu Dewanata
karena Drestarastra buta. Konflik terjadi ketika kutuk Batara Guru terhadap
Pandu yang menunggang Lembu Andini demi membahagiakan Madrim yang ngidam. Dalam
kedukaan dan tekanan batin Pandu memanah sepasang kijang yang sedang
berkasih-kasihan, ternyata jelmaan Resi suci Kamindana akibatnya ia pun dikutuk
Resi Kamindana apabila berhubungan intim akan menemui ajalnya. Suatu ketika
Pandu berhubungan intim dengan Madrim, dan saat itulah Batara Yamadipati (Dewa
Kematian) mencabut nyawa Pandu. Oleh kesalahannya Madrim pun bunuh diri
disamping suaminya.
Apabila dirunut maka silsilah Raja-raja
Astina menurut Ensikopedi Wayang dapat di uraikan sebagai berikut :
- Prabu Bharata (keturunan ke 30 dari Sanghyang Dharma)
- Prabu XXX
- Prabu XXX
- Prabu Pratipa dengan permaisuri Dewi Sumanda lahirlah Sentanu
- Prabu Sentanu dengan permaisuri Dewi Gangga lahirlah Bhisma
- Prabu Citragada
- Prabu Citrawirya atau Wicitrawirya
- Wiyasa dengan gelar Prabu Kresna Dwipayana
- Prabu Pandu Dewanata
- Prabu Drestarastra
- Prabu Suyudana
- Prabu Yudistira
- Prabu Parikesit
- Prabu Yudayana
- Prabu Gendrayana
Apabila dikaitkan
dengan kisah yang pernah saya posting terdahulu yaitu Satayojanagandhi. Setelah
Palasara mendirikan kerajaan Gajahoya, kemudian membawa Wiyasa bertapa
meninggalkan permaisurinya Durgandhini. Disisi lain, Prabu Sentanu yang
ditinggalkan oleh Dewi Gangga sibuk mencari orang yang dapat menyusui Bhisma
kecil. Ketika bertemu dengan Durgandhini, atas naluri keibuan karena putranya
Wiyasa dibawa ayahnya Palasara bertapa, maka ia pun menyusui Bhisma.
Melihat kasih sayang
Durgandhini kepada Bhisma seperti anakkya sendiri, maka Prabu Sentanu pun
memperistrinya, tapi Durgandhini mengajukan syarat bahwa nanti yang jadi raja
di Astina harus keturunannya. Syarat ini membuat Prabu Sentanu pusing tujuh
keliling. Karena dharma baktinya kepada ayah tercinta yaitu Prabu Sentanu serta
kebaikan ibu Durgandhini, Bhisma tidak kuasa untuk menolaknya. Bhisma sendiri
yang menghadap ibu Durgandhini bahwa ia tidak punya keinginan menjadi Raja
Astina. Dari perkawinan Prabu Sentanu dengan Durgandhini memperoleh anak 2 yaitu
Citragada dan Citrawirya
Sayangnya kedua anak
ini setelah menikah tidak panjang usianya, sehingga meninggalkan janda-janda
(Ambiki dan Ambika). Pasrah oleh takdir, Durgandini menyerahkan kekuasaan
Astini kepada Bhisma, yang lagi-lagi menolak dan menyarankan agar Kerajaan
Astina dipegang oleh Wiyasa (putra Durgandhini dari Palasara)
Di Jawa Durgandhini
ini disebut Dewi Setyawati.
Menurut Wikipedia
Hastinapura adalah sebuah kota dan Nagar Panchayat di distrik Meerut, Uttar Pradesh, negara
bagian India.
Hastinapura berasal dari kata Hasti (gajah) + Pura (kota). Banyak kejadian di
kisah Mahabharata yang terjadi di Hastinapura. Pada masa kini, kota ini disebut
Hastinapur, sebuah
kota kecil yang terletak di Uttar
Pradesh, jaraknya 120 km dari Delhi. Populasi
sekitar 20.000 jiwa. Perjalanan ke sana dapat ditempuh dengan bus dari Meerut
yang siap sedia dari jam 7 pagi sampai 9 malam. Jalanan bagus dan bersih dengan pemandangan hijau dan hamparan persawahan
di kiri-kanan. Di sana terdapat objek wisata yang menarik untuk dikunjungi
seperti Kuil Jain dan Taman Nasional Hastinapura.